Advertisement

Flash

 UT Bandung telah mendapat pengakuan internasional dalam sistem manajemen dengan diterimanya sertifikat ISO 9001-2000 yang dikeluarkan oleh SGS United Kingdom Ltd. Sertifikat ISO ID07/0934 itu diserahkan kepada Kepala UT Bandung Drs.H.I. Shofjan Taftazani, MPd dihadapan Rektor UT Prof Dr M Atwi Suparman, MSc berkenaan dies natalis Universitas Terbuka yang jatuh pada tanggal  4 September 2007.

Hal ini diberikan karena UT Bandung dinilai sangat baik dalam hal pengelolaan  manajemen dan pelayanan belajar jarak jauh, yang meliputi 7 aspek, yakni : layanan registrasi, ujian, tutorial, bahan ajar, promosi, sosialisasi dan ketatausahaan.

Kiprah UT Bandung ini adalah sebagai wujud sinkronisasi dengan Visi Universitas Terbuka yakni menjadi open university terdepan di asia pada 2010 dan unggulan dunia pada 2020.

joint us now :

022- 7313350 (pstn)

022- 7031 4141 (flexy)

022- 754545 33 (flexy)

022- 920 99941 (esia)

0821 17350017 (simpati)

 

 

cBanyak orang saat ini ingin mendapatkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi (PT) tetapi tidak tahu dan bingung harus ke mana melangkah. Pada akhirnya banyak yang ikut-ikutan terbawa teman berspekulasi masuk ke PT melalui seleksi dengan persaingan sangat ketat, padahal bila ia memang tidak memiliki kemampuan di atas rata-rata, itu hanya buang waktu dan biaya saja -kalo toh pada gilirannya ia gak bisa lolos juga.

Andai saja semua orang tahu dan mau percaya pada kemampuan diri sendiri, ada jalan mulus dan gampang masuk ke PTN terbesar di tanah air dengan tidak membuang waktu dan biaya banyak untuk meraih jenjang strata 1 (S1). Tanpa melalui seleksi anda bisa menjadi sarjana negeri dalam waktu 3 tahun saja untuk program studi manajemen, akuntansi, ilmu komunikasi, ilmu pemerintahan dan banyak lagi.

Orang juga mungkin tidak tahu kalau jalur mudah ini sudah ada sejak 1984 yaitu 24 tahun yang lalu !
Better late than never kata orang, berlaku juga buat anda. Sebab anda lulusan SLTA/persamaan tahun berapapun gak masalah, semuanya bisa diterima -yang penting anda masih ada semangat untuk meraih sarjana.

oOleh karena itu jangan dibiasakan berspekulasi, pilih langsung PT negeri yang pasti merima anda kapan pun ! Ya kapan saja, karena registrasi mahasiswa baru dilakukan setiap hari dan wisuda tiap semester ( setahun dua kali). Segera raih cita-cita anda, jangan buang waktu, 3 tahun cepat berlalu, daripada waktu dibuang-buang tak berguna, mendingan jadi sarjana -langsung aja daftar dan cari info sekarang ke hotline : 022-713350 ; 022-730314141 ; 022-75454533 ;  022-92099941 ;  0821 17350017

UT diresmikan pada tanggal 4 September 1984, berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 41 Tahun 1984.UT telah memperoleh Sertifikat Kualitas dan Akreditasi Internasional dari Internasional Council for Open and Distance Education (ICDE) Standard Agency (ISA) tanggal 12 Agustus 2005.

Pada tanggal 14 Maret 2006, UT juga memperoleh Sertifikat ISO 9001:2000 untuk bidang Layanan Bahan Ajar dari Badan Sertifikasi SAI Global.

 

 

 

Who's Online

Statistics

Visitors: 6244165
powered_by.png, 1 kB

Home arrow News arrow Latest arrow PENJAMINAN KUALITAS LULUSAN UT
PENJAMINAN KUALITAS LULUSAN UT Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 04 September 2008

MELALUI PENYELENGGARAAN TUGAS AKHIR PROGRAM


Endang Indrawati ( This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it This email address is being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it )
Pepi Rospina Pertiwi ( This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it This email address is being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it )
Universitas Terbuka


ABSTRACT
One of the missions of Universitas Terbuka (UT) as a distance education institution is ensuring high academic quality in all aspects of educational management. The ultimate goal is to produce a good quality of graduates for every study program in the institution, this includes Agriculture Extension study program as one of the study program at UT also concerns to produce high quality graduates. Several modifications had been made for delivering a comprehensive examination for Agricultural Extension students in 2005.2.which includes conducting face to face tutorials, providing tutors for assisting students in writing final paper, and conducting assessment evaluation for the written examinations.
Comprehensive examination is the ultimate requirements for every students and it is assigned in the end of their study. This article was written based on the portrait of the comprehensive examination mechanism during 2005.2 period. To control the quality Study Program took certain measures which includes by conducting monitoring and evaluating the comprehensive examination in certain regional centres, verification assessment of student
final paper submitted by tutor for each regional centre, and conducting assessment evaluation for the written examination by academic staff in the study program using continous ‘running belt’ system.

Keywords: comprehensive examination, quality of graduates

Sejak awal Program Studi S1 Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (S1 PKP) Universitas Terbuka (UT) didirikan, visi dan misi program diarahkan untuk menghasilkan lulusan Penyuluh Pertanian yang berkualitas sehingga dapat mengaplikasikan ilmunya dalam pembangunan pertanian secara bertanggung jawab. Perancangan Program Studi S1 PKP diawali dari banyaknya permintaan lulusan program terdahulu, D3 Penyuluhan Pertanian, yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang strata (S1). Hal ini ditunjang dengan meningkatnya kebutuhan akan penyuluh yang berkompeten
untuk membangun wilayah masing-masing, sesuai dengan tuntutan otonomi daerah. Dengan demikian Program Studi S1 PKP harus menciptakan iklim pembelajaran bagi mahasiswa yang mendukung pencapaian kompetensi yang diharapkan.
Sebenarnya peningkatan kualitas lulusan ini tidak hanya dicanangkan pada lingkup program studi, akan tetapi juga merupakan salah satu misi UT sebagai penyelenggara pendidikan jarak jauh.
Akreditasi UT menghendaki adanya jaminan kualitas di segala bidang pengelolaan, yang ditujukan secara sengaja untuk menjamin kualitas lulusannya.

Sejauh ini Program Studi S1 PKP UT telah menjalankan berbagai upaya peningkatan kualitas belajar mahasiswa melalui pembelajaran dan evaluasi hasil belajar, di antaranya dengan pemberian tugas mandiri, penyelenggaraan berbagai jenis tutorial, kontrol penyelenggaraan praktikum dan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Selain itu, sebagai puncak dari proses penyelesaian
studi dan sebagai syarat kelulusan untuk program Strata 1, Program Studi memberikan ujian Tugas Akhir Program (TAP). Soal TAP berupa analisis kasus yang pengerjaannya memerlukan analisis integratif beberapa mata kuliah inti/pendukung yang bersifat interdisipliner.
Selama ini ujian TAP dilakukan secara tertulis dengan tujuan mengukur wawasan mahasiswa tentang bidang ilmu yang telah dipelajari beserta penerapannya, serta menilai keterampilan mahasiswa dalam menuangkan pemikiran tentang wawasannya itu ke dalam bentuk tulisan. Secara umum, tingkat kelulusan mahasiswa dalam ujian TAP di FMIPA UT cenderung
rendah, kecuali pada masa ujian 2005.2, seperti dapat dilihat pada Tabel 1.


Tabel 1. Persentase kelulusan ujian TAP di FMIPA UT (Masa Ujian 2004.1 – 2005.2)
Masa Ujian     Jumlah Peserta Ujian      Jlh mhs  lulus          % lulus                                                                                       (orang)                        (orang)                (nilai ≥ C)
2004.1                                 36                                     5                     13,8
2004.2                                 39                                   14                     35,9
2005.1                                 38                                   19                     50,0
2005.2                                429                                348                    81,1
Sumber: Pusat Komputer UT, 7 September 2006


Pada masa ujian 2004.1 sampai 2005.1, peserta TAP dari FMIPA berasal dari 2 program studi, yaitu Matematika dan Statistika. Program S1 PKP baru menyelenggarakan TAP pada masa ujian 2005.2, dengan jumlah peserta TAP sebanyak 393 orang.

Tabel 1 memperlihatkan perbedaan tingkat kelulusan yang signifikan, yang disebabkan oleh tingginya kelulusan peserta TAP dari Program Studi S1 PKP dengan pola penyelenggaraan TAP yang dimodifikasi dengan pembuatan
karya ilmiah.
Untuk mengatasi rendahnya tingkat kelulusan, semua fakultas di UT melakukan modifikasi penyelenggaraan TAP. Misalnya, bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosisal dan Ilmu Politik (FISIP) yang telah menempuh ≥ 3 (tiga) kali ujian tetapi belum lulus TAP, mahasiswa diberikan tugas tambahan
berupa penulisan karya ilmiah yang diujikan. Nilai karya ilmiah tersebut hanya dapat berkontribusi terhadap nilai akhir TAP jika mahasiswa memperoleh nilai ujian TAP mendekati nilai minimal kelulusan, sehingga mahasiswa mencapai nilai minimal (nilai C). Fakultas Ekonomi (FEKON) juga
memberikan tugas karya ilmiah bagi mahasiswa yang sudah 3 kali tidak lulus TAP. Apabila nilai ujian TAP masih di bawah standar kelulusan, maka nilai akhir TAP diperoleh dari rata-rata penjumlahan nilai ujian TAP dan nilai karya ilmiah. Adapun bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan (FKIP) yang sudah 3 kali gagal dalam TAP, mahasiswa diberi dua pilihan, mengikuti TAP
yang keempat kalinya atau mengerjakan tugas pengganti ujian TAP.
Pada masa ujian 2005.2 Program Studi S1 PKP mulai menyelenggarakan TAP dengan modifikasi penyelenggaraan yaitu gabungan antara tutorial tatap muka TAP, pembuatan karya ilmiah ilmiah, dan ujian tertulis. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, yaitu lulusan
yang dapat melaksanakan tugas sebagai praktisi penyuluhan yang handal dan profesional berdasarkan kaidah dan etika keilmuan yang dipelajarinya (Universitas Terbuka, 2004a).
Artikel ini secara khusus membahas tentang penjaminan kualitas lulusan melalui penyelenggaraan TAP, sebagai suatu alternatif terobosan untuk UT dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi jarak jauh di Indonesia. Topik yang dibahas meliputi, pengertian manajemen kualitas pendidikan dalam penjaminan kualitas lulusan, kualitas mahasiswa berdasarkan evaluasi
hasil belajar, pola penyelenggaraan TAP sebagai upaya penjaminan kualitas lulusan, dan penutup yang berisi tentang kesimpulan dan saran untuk perbaikan mekanisme penyelenggaraan TAP di masa yang akan datang.

MANAJEMEN KUALITAS PENDIDIKAN DALAM PENJAMINAN KUALITAS LULUSAN
Secara ilmu ekonomi, kualitas diartikan sebagai sesuatu yang diputuskan oleh customer (Feigenbaum, 1992). Siapakah customer bagi produk lulusan pendidikan? Soehendro (1996) menyebut customer pendidikan dengan istilah pelanggan, yang dikaitkan dengan kenyataan bahwa perguruan tinggi merupakan sebuah lembaga pelayanan jasa pendidikan yang dalam pelaksanaaan kegiatannya harus selalu berupaya memenuhi keinginan pelanggan. Pelanggan menurut Soehendro diartikan sebagai kelompok masyarakat yang mempunyai kepentingan secara langsung maupun
tidak langsung atas pendidikan maupun hasilnya. Pelanggan terdiri dari mahasiswa, orang tua mahasiswa, staf perguruan tinggi, masyarakat, dan pemerintah.
Customer pendidikan merupakan pihak-pihak yang memerlukan jasa lulusan yang mempunyai kompetensi sesuai dengan latar belakang atau gelar pendidikan yang disandangnya.
Pihak tersebut dapat perorangan, perusahaan, instansi formal, ataupun kelembagaan sosial. Sebagai contoh, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang packaging sayur-sayuran untuk disuplai ke supermarket, memerlukan bahan baku secara langsung dari petani. Perusahaan ini tentu
membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu melakukan pendekatan kepada petani guna memperoleh jenis dan standar kualitas sayuran yang dikehendaki.
Kemampuan SDM tersebut sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh seorang lulusan Program Penyuluhan Pertanian. Hal ini disebabkan selama mengikuti pendidikan pada Program Penyuluhan Pertanian, mahasiswa dibekali dengan berbagai ilmu yang berkaitan dengan pendekatan
terhadap petani. Begitu pula instansi formal seperti Departemen Pertanian yang selama ini menyelenggarakan program penyuluhan pertanian bagi petani, tentu membutuhkan penyuluh yang berkualitas serta memiliki kompetensi yang sesuai dengan tujuan kegiatan penyuluhan. Perusahaan
yang membutuhkan SDM untuk melakukan pendekatan kepada petani serta Departemen Pertanian yang membutuhkan penyuluh berkualitas merupakan contoh dari customer bagi produk lulusan pendidikan Program Penyuluhan Pertanian. Customer pendidikan inilah yang menentukan kualitas
lulusan yang diinginkannya, berupa kompetensi khusus yang dapat meningkatkan kinerja, memberikan manfaat atau kontribusi yang menguntungkan.
Di samping tuntutan customer, pentingnya manajemen kualitas di bidang pendidikan juga dilatarbelakangi dengan adanya globalisasi dan pasar bebas di bidang pendidikan, yang menuntut kualitas dan kemampuan untuk bersaing dan sekaligus untuk bekerja sama (Wahab, 2003). Di Indonesia, lembaga pendidikan tinggi bermunculan dengan menawarkan berbagai kemudahan baik dalam sistem dan cara belajar maupun sertifikasi lulusan yang menggiurkan. Maraknya lembaga pendidikan tinggi ini menumbuhkan persaingan sehingga memicu sebagian perguruan tinggi lain
untuk mempertahankan kualitas pendidikan dengan berbagai strategi ataupun dengan pemanfaatan teknologi. Kondisi ini menumbuhkan dua pilihan bagi suatu lembaga pendidikan tinggi, ikut dalam
kompetisi atau berhenti sama sekali. Bagi lembaga pendidikan yang memutuskan untuk terlibat dalam persaingan, konsekuensinya adalah harus mempertahankan manajemen kualitas, artinya bertahan dengan mengembangkan konsep pendidikan, inovasi, atau kiat menjamin kualitas
pendidikan dan lulusannya.

Kenyataan tersebut didukung dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Purnama (2006) bahwa nasib beberapa perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia akan gulung tikar, kecuali PTS yang memiliki pondasi manajemen kualitas dan terstruktur kuat yang akan tetap bertahan. Lebih
lanjut Purnama menyatakan bahwa pada lima tahun mendatang hanya ada beberapa PTS saja yang bertahan, yaitu PTS yang mempertahankan kualitas pendidikan, yang secara otomatis akan berpengaruh terhadap kualitas lulusan. Keadaan tersebut menjadikan upaya peningkatan kualitas
dalam bidang pendidikan menjadi sangat penting.
Soehendro (1996) menyebutkan upaya manajemen kualitas pendidikan, antara lain dapat dilakukan dengan cara menyesuaikan sasaran pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja ahli.
Sasaran pendidikan dapat ditekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) atau berorientasi pada penerapan iptek, melalui praktikum, kerja praktek, magang atau co-op education
melalui hubungan kerja sama antara perguruan tinggi dengan instansi kerja terkait.
Mengenai upaya peningkatan kualitas pendidikan ini, Kurniawan (2003) mengemukakan bahwa proses pembelajaran harus diberdayakan semaksimal mungkin. Pemberdayaan ini dilakukan antara lain dengan cara (1) mengubah paradigma masyarakat pembelajar, (2) mengembangkan resources dan (3) mengembangkan content. Masyarakat lembaga pendidikan harus diberikan
pengertian tentang proses pendidikan dan pembelajaran, yaitu bahwa budaya teacher centered harus diganti dengan budaya student activity. Mahasiswa atau pelajar adalah pelaku belajar, bukan pihak yang dijejali dengan materi belajar. Guru/dosen bertindak sebagai fasilitator, yang kehadirannya menyebabkan siswa atau mahasiswa mempunyai keinginan belajar. Sumber daya pendidikan (pengajar serta alat belajar lain) harus pula dikembangkan, dengan cara pembinaan dan pengembangan kemampuan pengajar, persiapan sarana dan prasarana pembelajaran serta penyiapan fasilitas teknologi informasi yang mendukung proses pembelajaran. Adapun content atau
isi pembelajaran yang harus dikembangkan adalah kurikulum.
Berdasarkan uraian tersebut, manajemen kualitas di bidang pendidikan ternyata tidak kalah penting dari manajemen bidang ekonomi atau industri. Justru manajemen kualitas pendidikan tinggi harus lebih diutamakan karena dari perguruan tinggi yang berkualitas dapat diperoleh lulusan yang
berkualitas yaitu SDM siap pakai, kaya dengan pengalaman praktik kerja, memiliki ilmu yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan/pembangunan, serta memiliki mental yang siap jika harus berkecimpung secara langsung dalam situasi nyata.
KUALITAS MAHASISWA BERDASARKAN EVALUASI HASIL BELAJAR
Bagi PTJJ, munculnya kelas jauh yang diselenggarakan beberapa perguruan tinggi merupakan sebuah tantangan. Berdasarkan Kepmen Nomor 107/U/2001, sebuah perguruan tinggi dapat menjalankan pendidikan jarak jauh dengan persyaratan sebagai berikut;
1. Mempunyai sumber daya untuk merancang, menyusun, memproduksi, dan menyebarluaskan
seluruh bahan ajar yang diperlukan untuk memenuhi kurikulum program.
2. Memiliki sumber daya untuk menyelenggarakan interaksi antara dosen, asisten atau tutor
dengan mahasiswa secara intensif, baik melalui tatap muka, telekonferensi, surat menyurat
elektronik, maupun bentuk interaksi jarak jauh lainnya yang menjamin dosen akan dapat
mengenal secara individual setiap mahasiswanya sehingga mampu menjaga kualitas proses
pembelajaran.
3. Mempunyai sumber daya untuk menyediakan fasilitas praktikum dan/atau akses bagi mahasiswa
untuk melaksanakan praktikum.

4. Bekerja sama dengan perguruan tinggi lain yang sudah mempunyai ijin penyelenggaraan
program studi yang sama untuk memfasilitasi kegiatan pengembangan program dan bahan ajar,
pemberian layanan bantuan belajar, layanan perpustakaan, pelaksanaan praktikum dan
pemantapan pengalaman lapangan, serta penyelenggaraan evaluasi hasil belajar secara jarak
jauh.
Berdasarkan kenyataan tersebut, UT sebagai salah satu institusi yang menerapkan sistem
PTJJ di Indonesia yang diakui oleh pemerintah dituntut untuk terus memperkaya diri dengan upaya
penjaminan kualitas. Sehubungan dengan hal tersebut, salah satu upaya UT dalam penjaminan
kualitas adalah melalui penyelenggaraan evaluasi hasil belajar bagi mahasiswa yang berkualitas.
Evaluasi pada dasarnya merupakan pengumpulan informasi secara sistematis untuk menetapkan
apakah terjadi perubahan dalam diri orang yang belajar dan menetapkan sejauh mana tingkat
perubahan yang terjadi (Bloom dalam Daryanto, 1999). Fungsi evaluasi secara umum menurut
Purwanto (198 8) adalah untuk: (1) mengetahui kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah
mengalami kegiatan belajar dalam kurun waktu tertentu, (2) mengetahui sejauh mana keberhasilan
suatu metode pembelajaran yang digunakan, serta (3) mencari upaya perbaikan dari keadaan yang
sebelumnya. Fungsi evaluasi yang pertama berkaitan erat dengan sasaran didik. Dengan
memperhatikan fungsi evaluasi tersebut dapat dinyatakan bahwa penyelenggaraan evaluasi
terhadap sekelompok mahasiswa dapat memberikan gambaran tentang nilai mahasiswa di suatu
perguruan tinggi.
Dalam lembaga pendidikan tinggi tatap muka, penyelenggaraan evaluasi relatif mudah
dilakukan karena evaluator dengan pihak yang dievaluasi bertemu dalam satu ruangan nyata.
Berbeda dengan lembaga pendidikan jarak jauh, evaluator tidak langsung berhadapan dengan pihak
yang dievaluasi. Perangkat evaluasi harus dibuat sedemikian rupa sehingga penyelenggaraan
evaluasi berlangsung dengan bersih, tepat waktu, tepat sasaran, dan serentak dengan materi
evaluasi yang sama.
UT telah memiliki sistem evaluasi hasil belajar dengan menggunakan pengelolaan
komprehensif yang terkait secara utuh dan sinergis antara pengelolaan yang bersifat edukatif
maupun administratif. Sampai saat ini, dalam pedoman sistem jaminan kualitas tentang Pengelolaan
Penilaian Evaluasi Hasil Belajar Mahasiswa – UT tahun 2004 dinyatakan bahwa jenis evaluasi hasil
belajar yang diterapkan di UT terdiri dari: Tugas Mandiri (TM), Ujian Akhir Semester (UAS),
Praktikum, Praktek, Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM), Pemantapan Kemampuan
Profesional (PKP), Tugas dan Partisipasi Tutorial, Seminar, Karya Ilmiah dan Tugas Akhir Program
(TAP). Jenis evaluasi hasil belajar tersebut sesuai dengan jenis-jenis evaluasi yang disyaratkan oleh
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Program S1 Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian FMIPA UT sebagai salah satu program
studi yang terdapat di UT memberikan berbagai jenis evaluasi hasil belajar bagi mahasiswa, antara
lain: TM, UAS, tugas, dan partisipasi tutorial (tertulis, elektronik dan tatap muka), praktikum, seminar,
Praktek Kerja Lapangan (PKL), karya ilmiah, serta TAP. Materi evaluasi hasil belajar disesuaikan
dengan kompetensi yang diharapkan dikuasai oleh mahasiswa sebagai penyuluh pertanian yang
berada dalam lingkup Departemen Pertanian.
Ditinjau dari segi jarak, evaluasi hasil belajar dibedakan menjadi dua jenis, yaitu evaluasi
hasil belajar yang dilakukan secara mandiri dan yang dilakukan dengan pengawasan. Jenis evaluasi
yang dilakukan secara mandiri yang digunakan pada Program Studi S1 PKP antara lain: TM, tugas
dan partisipasi tutorial tertulis dan tutorial elektronik, serta karya ilmiah. Adapun jenis evaluasi hasil
belajar dengan pengawasan terdiri atas: UAS, praktikum, tugas dan partisipasi tutorial tatap muka, seminar, PKL, dan TAP. Ditinjau dari segi waktu pemberian evaluasi, terdapat tiga cara yang
berbeda, yaitu evaluasi hasil belajar yang dilakukan pada rentang masa registrasi berjalan, pada
akhir masa pembelajaran, dan di masa akhir penyelesaian program. Evaluasi yang dilakukan di
tengah masa pembelajaran yaitu TM, tugas dan partisipasi tutorial, praktikum, seminar dan PKL,
sedangkan evaluasi yang dilakukan setelah masa pembelajaran adalah UAS. Sementara itu, TAP,
dilaksanakan pada akhir penyelesaian program.
Jenis evaluasi TM, tugas dan partisipasi tutorial, praktikum, dan UAS menilai tingkat
pemahaman mahasiswa terhadap mata kuliah tertentu yang diikutinya selama masa pembelajaran.
Adapun seminar, PKL, dan TAP menilai kemampuan analisis mahasiswa terhadap ilmu yang
dipelajarinya terhadap suatu kasus tertentu yang terjadi di lapangan. Jenis evaluasi ini mempunyai
bobot yang lebih berat karena mahasiswa diharapkan mampu menguasai beberapa ilmu atau
beberapa mata kuliah yang disyaratkan.
Gambar 1. Jenis Evaluasi Hasil Belajar berdasarkan Posisi Waktu Penyelenggaraan
pada Program Studi S1-PKP FMIPA UT

Dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, jenis evaluasi hasil belajar yang terdapat pada
Program Studi S1 PKP FMIPA UT dapat disusun berdasarkan alur mahasiswa selama mengikuti
perkuliahan sejak registrasi pertama sampai menjelang kelulusan. Berdasarkan alur ini, kompetensi
lulusan yang diharapkan dapat dicapai oleh mahasiswa makin meningkat seiring dengan lamanya
mahasiswa menempuh pembelajaran. Hal ini dapat dijelaskan melalui definisi jenis-jenis tugas
(Universitas Terbuka, 2004b) sebagai berikut.
1. Tugas Mandiri (TM) merupakan tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa secara mandiri,
untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam menguasai materi sampai pada pertengahan
semester.
2. Tugas dan partisipasi tutorial merupakan evaluasi yang dilakukan pada saat tutorial, umumnya
diberikan kepada mahasiswa berkaitan dengan materi tutorial yang diberikan oleh tutor. Tugas
tutorial lebih merupakan improvisasi yang dilakukan tutor tiap-tiap matakuliah sehingga bentuk
maupun isi/materi tugas sangat beragam. Dengan demikian, kemampuan yang diperoleh
mahasiswa dalam menguasai materi pun beragam, tergantung materi tugas yang diberikan tutor.
Namun demikian, kemampuan yang diukur melalui tugas dan partisipasi tutorial tetap bersumber
pada kemampuan/kompetensi yang diharapkan dikuasai mahasiswa setelah mengikuti suatu
mata kuliah.
3. Praktikum merupakan tugas yang diberikan kepada mahasiswa dengan melakukan suatu
pengamatan, diskusi, atau percobaan yang bersifat penerapan teori di lokasi praktikum dengan
mengacu pada panduan yang diberikan dari pusat dengan bimbingan tutor/instruktur. Melalui
praktikum kemampuan mahasiswa dalam menguasai materi diharapkan lebih mantap.
4. UAS merupakan evaluasi hasil belajar yang dilakukan pada akhir masa pembelajaran,
dimaksudkan untuk menilai kemampuan mahasiswa terhadap penguasaan materi suatu mata
kuliah selama satu semester. UAS dilakukan secara serentak serta menggunakan soal yang
sama bagi seluruh mahasiswa peserta UAS di masa ujian tertentu. UAS dilaksanakan di
berbagai tempat ujian dengan pengawasan.
5. Seminar adalah suatu pertemuan ilmiah yang diadakan untuk mendiskusikan dan membahas
permasalahan ilmiah. Pada Program Studi S1 PKP, seminar digunakan untuk mempresentasikan
dan mendiskusikan proposal Praktek Kerja Lapangan (PKL) sebelum mahasiswa melakukan
PKL.
6. PKL adalah suatu bentuk pembelajaran di mana mahasiswa melakukan praktek kerja situasi
nyata dengan menggunakan kaidah serta metode ilmiah. Tahapannya meliputi identifikasi
potensi wilayah, studi kepustakaan, pembuatan proposal PKL, seminar proposal, serta kegiatan
utama dalam penyuluhan yang berupa: penyuluhan, pembinaan kelompok tani-nelayan,
pelatihan/kursus tani, pembinaan usahatani atau pengabdian kepada masyarakat petaninelayan.
Hasil praktek kerja tersebut diseminarkan kembali di lokasi tingkat kecamatan sebagai
upaya sosialisasi. Hasil kegiatan praktek kerja mahasiswa dituliskan dalam suatu laporan PKL
sebagai bahan evaluasi/ujian PKL di depan dosen pembimbing serta dosen penguji.
7. TAP merupakan tugas yang diberikan kepada mahasiswa program S1 sebagai salah satu syarat
penyelesaian studi. TAP dilakukan melalui ujian komprehensif secara tertulis berbentuk uraian
dan dimaksudkan untuk mengukur kemampuan berpikir komprehensif terhadap materi dan
praktik yang telah diperoleh mahasiswa selama mengikuti Program Studi S1 PKP.

Penjelasan mengenai jenis evaluasi hasil belajar di atas menunjukkan urutan kemampuan
yang semakin tinggi, yang diharapkan akan diperoleh mahasiswa dalam menempuh studinya sampai
selesai. Urutan tersebut dimulai dari pemberian TM yang bertujuan menilai kemampuan belajar
mahasiswa terhadap sebagian materi dalam suatu mata kuliah tertentu, sampai pada Tugas Akhir
Program yang dimaksudkan untuk melihat kemampuan mahasiswa dalam mengkaji dan meyajikan
kemampuan berpikirnya secara komprehensif berdasarkan materi mata kuliah pendukung TAP.
Pemberian evaluasi secara bertahap ini memungkinkan terciptanya akumulasi kemampuan berpikir
mahasiswa dari sejak awal kuliah sampai menjelang akhir studi, sehingga menghasilkan lulusan
yang berkualitas.
POLA PENYELENGGARAAN TAP SEBAGAI UPAYA PENJAMINAN KUALITAS LULUSAN
Telah dikemukakan pada bagian sebelumnya bahwa TAP yang diselenggarakan di UT
dimaksudkan untuk mengukur kemampuan berpikir komprehensif terhadap materi dan praktik yang
telah diperoleh mahasiswa selama mengikuti suatu program studi. TAP yang diselenggarakan dalam
kerangka pjj mempunyai posisi yang setara dengan tugas pembuatan skripsi bagi mahasiswa yang
belajar di perguruan tinggi tatap muka. Skripsi merupakan karya tulis ilmiah yang disusun secara
sistematik menggunakan kaidah ilmiah, berisi tentang hasil penelitian yang dilakukan mahasiswa
dalam kurun waktu tertentu. Karya tulis tersebut kemudian dipertanggungjawabkan dalam suatu ujian
tatap muka, dengan maksud menggali kemampuan analisis mahasiswa secara komprehensif
terhadap hasil penelitiannya. Selama proses pembuatan skripsi (dari perencanaan, pelaksanaan
penelitian sampai penulisan hasil penelitian) mahasiswa melakukan konsultasi atau pembimbingan
dengan dosen pembimbing inti secara tatap muka.
Pada institusi PTJJ, tidak menutup kemungkinan pembuatan skripsi dilakukan oleh
mahasiswa. Namun bagi institusi PTJJ yang memiliki mahasiswa dengan jumlah banyak serta tidak
sedikit yang tinggal di tempat terpencil, hal tersebut akan sangat tidak efektif dan efisien. Dengan
demikian, UT menerapkan ujian komprehensif berupa TAP sebagai syarat penyelesaian studi yang
dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas (Universitas Terbuka, 2005).
Pola penyelenggaraan TAP yang akan dibahas pada bagian ini mengacu pada
penyelenggaraan TAP Program Studi S1 PKP FMIPA UT pada masa registrasi 2005.2. Sesuai
dengan tujuan TAP yaitu menguji tingkat penguasaan mahasiswa terhadap bidang ilmu yang
tercakup dalam program studi S1 PKP, materi ujian uraian TAP didasarkan pada beberapa mata
kuliah dalam ilmu penyuluhan dan komunikasi pertanian. Disamping itu mahasiswa diberikan tugas
membuat karya ilmiah TAP untuk menilai daya analisis mahasiswa terhadap kasus yang
berhubungan dengan bidang ilmu dan dapat berupa makalah ilmiah maupun hasil penelitian.
Untuk membantu mahasiswa mempersiapkan diri mengikuti TAP baik dalam pembuatan
karya ilmiah maupun dalam mengikuti ujian TAP, Program Studi S1 PKP FMIPA UT menyediakan
panduan TAP agar mahasiswa dapat membuat strategi dan mengatur waktu belajar yang lebih
efektif. Di samping itu mahasiswa diberi kesempatan untuk mengikuti tutorial TAP di lingkup UPBJJ
UT masing-masing dengan harapan agar mahasiswa lebih mudah memahami materi TAP serta
memperoleh bimbingan dari tutor untuk mengembangkan karya ilmiah TAP.
Persiapan yang dilakukan dalam penyelenggaraan TAP dirancang dengan kontrol yang
tinggi. Banyak pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan TAP ini, yaitu: Program Studi di UT Pusat,
Unit terkait di UT Pusat dan UPBJJ UT, serta tutor yang direkrut dari daerah. Kerja sama antar pihak
penting dilakukan untuk mengatasi keterbatasan jarak dan kurangnya pertemuan secara langsung
antara mahasiswa S1 PKP dengan dosen yang berada di UT Pusat. Pihak-pihak tersebut bekerja dalam suatu pengelolaan TAP yang utuh dan sinergis sehingga terbentuk penanganan yang
menunjukkan keterjaminan kualitas lulusan.
Pola penyelenggaraan TAP S1 PKP pada masa registrasi 2005.2 dirancang melalui
penanganan secara administratif maupun akademik. Pengelolaan TAP yang bersifat administratif
mencakup penjaringan calon peserta TAP, penanganan registrasi, teknis penyelenggaraan tutorial,
pengelolaan waktu dan jadual ujian, pencetakan dan pendistribusian naskah ujian, teknis
pengelolaan BJU TAP, serta administrasi penilaian TAP. Adapun penanganan akademik mencakup
proses terkait dengan materi TAP, antara lain: pembuatan kisi-kisi materi TAP, pembuatan naskah
ujian TAP, pembuatan petunjuk dan format penulisan karya ilmiah, pembimbingan dan tutorial TAP,
evaluasi dan monitoring ke lokasi tutorial TAP, serta penilaian karya ilmiah dan BJU TAP (Universitas
Terbuka, 2005).
Pengelolaan Administratif
1. Penjaringan calon peserta TAP. Mahasiswa calon peserta TAP harus sudah menempuh mata
kuliah lulus sebanyak minimal N-19 sks dengan IPK minimal 2,00, disamping memenuhi syarat
administratif seperti penyerahan fotokopi ijazah, tanda bukti registrasi dan tanda bukti
pembayaran. Data mahasiswa calon peserta TAP dikirimkan ke UPBJJ UT dan mahasiswa yang
bersangkutan untuk keperluan registrasi TAP.
2. Registrasi TAP. Registrasi TAP pada teknis pelaksanaannya sama dengan registrasi mata kuliah
yang dilakukan mahasiswa di setiap semester. Mahasiswa melakukan registrasi TAP di UPBJJ
UT untuk kemudian diteruskan ke UT Pusat.
3. Teknis penyelenggaraan tutorial. Penyelenggaraan tutorial TAP di daerah dilakukan di bawah
koordinasi UPBJJ UT, mengacu pada pedoman penyelenggaraan TAP yang ditetapkan di UT
Pusat. UPBJJ UT melakukan sosialisasi penyelenggaraan TAP, perekrutan tutor, perekrutan
mahasiswa yang bersedia mengikuti tutorial TAP, penetapan jadual dan lokasi tutorial, serta
pengadministrasian nilai tugas dan partisipasi yang diperoleh dari tutor untuk kemudian diproses
di UT Pusat.
4. Pengelolaan waktu dan jadual ujian. Waktu dan jadual ujian TAP telah ditetapkan secara baku,
yaitu hari Sabtu sebelum UAS hari ke-2. Waktu penyelesaian soal TAP adalah 3 jam sehingga
memungkinkan mahasiswa untuk memperoleh keleluasaan dalam mengerjakan soal ujian.
5. Pencetakan dan pendistribusian naskah ujian. Naskah ujian TAP yang telah dicetak di UT Pusat
didistribusikan ke UPBJJ UT dalam waktu sedekat mungkin dengan waktu ujian serta dibawa
secara langsung oleh petugas/penanggung jawab ujian dari UT Pusat. Hal ini dilakukan untuk
mengantisipasi kebocoran soal ujian.
6. Teknis pengelolaan BJU TAP. Setelah ujian TAP selesai dilakukan, Buku Jawaban Ujian (BJU)
TAP langsung dibawa kembali oleh penanggung jawab ke UT Pusat. BJU tersebut ditata di Pusat
Pengujian (Pusjian), kemudian didistribusikan ke Fakultas untuk dinilai oleh staf edukatif yang
memiliki kompetensi terkait dengan mata kuliah TAP. Pemeriksaan BJU TAP pada masa ujian
2005.2 dilakukan di UT Pusat.
7. Administrasi penilaian. Setelah penilaian BJU di fakultas selesai dilakukan, nilai mentah yang
diperoleh mahasiswa diserahkan kembali ke pusjian untuk diproses menjadi nilai akhir. Nilai akhir
TAP yang diperoleh mahasiswa berasal dari penggabungan nilai tugas dan partisipasi tutorial
TAP, nilai karya ilmiah TAP, dan nilai ujian TAP dengan kontribusi nilai berturut-turut sebesar
10%, 40%, dan 50%.

Pengelolaan Akademik
1. Pembuatan kisi-kisi materi TAP. TAP bersifat komprehensif sehingga materi yang diberikan
dalam TAP S1 PKP mencakup konsep dan permasalahan pembangunan pertanian di Indonesia,
konsep teoretis, penerapan dan penelitian di bidang komunikasi inovasi, pengetahuan dan
keterampilan dasar penelitian sosial, penyusunan program dan evaluasi penyuluhan pertanian,
serta konsep agribisnis dan analisis aspek yang perlu dikaji dalam suatu studi kelayakan
agribisnis (Universitas Terbuka, 2004a). Sesuai deskripsi tersebut, beberapa mata kuliah pada
Program Studi S1 PKP menjadi materi pendukung TAP, yaitu mata kuliah Pembangunan
Pertanian, Komunikasi Inovasi, Metode Penelitian Sosial, Program Penyuluhan Pertanian,
Evaluasi Penyuluhan Pertanian dan Studi Kelayakan Agribisnis. Deskripsi di atas dikembangkan
menjadi penjabaran konsep penting terkait dengan mata kuliah pendukung dengan maksud
memudahkan mahasiswa mempelajari materi TAP.
2. Pembuatan naskah ujian TAP. Pembuatan naskah ujian merupakan salah satu tahapan yang
wajib dilakukan dalam proses evaluasi hasil belajar. Naskah soal TAP disusun oleh tim pembuat
soal TAP di Program Studi S1 PKP FMIPA UT. Soal ujian TAP berbentuk uraian, mencakup
konsep penting yang terdapat dalam mata kuliah pendukung TAP. Keterkaitan semua mata
kuliah pendukung TAP dan analisis kompetensi TAP diinformasikan kepada mahasiswa dalam
panduan belajar TAP. Untuk mengarahkan mahasiswa dalam menjawab soal TAP, pada setiap
nomor soal diberikan petunjuk berupa nama mata kuliah pendukung terkait dan rambu berpikir.
3. Pembuatan petunjuk dan format penulisan karya ilmiah. Pembuatan karya ilmiah TAP
merupakan salah satu bentuk pembelajaran TAP yang dianjurkan dibuat oleh mahasiswa peserta
TAP. Hal tersebut dimaksudkan agar mahasiswa terbiasa membaca tulisan ilmiah, menganalisis
suatu permasalahan yang terjadi di lapangan, serta menjabarkannya dalam bentuk karya tulis
ilmiah. Selain memperkaya wawasan mahasiswa, pembuatan karya ilmiah juga dapat membantu
mahasiswa berlatih mengerjakan ujian TAP. Untuk mempermudah mahasiswa membuat karya
ilmiah, Program Studi S1 PKP menyusun petunjuk pembuatan karya ilmiah serta menetapkan
format penulisan karya ilmiah. Pembuatan karya ilmiah ini sifatnya tidak wajib dilakukan oleh
mahasiswa, namun bila dikerjakan akan mepunyai bobot yang tinggi terhadap nilai akhir TAP.
4. Pembimbingan dan tutorial TAP. Pembimbingan TAP diberikan melalui tutorial tatap muka oleh
tutor yang mendapat legitimasi dari UPBJJ UT. Kegiatan bimbingan TAP meliputi reviu substansi
mata kuliah, analisis konsep pendukung TAP, pembahasan topik terkait ilmu yang dipelajari atau
identifikasi masalah yang dihadapi di lapangan, perumusan solusi penyelesaian masalah, serta
pembuatan ringkasan hasil diskusi. Disamping itu dalam pembimbingan juga diberikan latihan
menulis karya ilmiah serta latihan mengerjakan soal uraian (Universitas Terbuka). Pada masa
registrasi 2005.2, pembimbingan diberikan secara langsung oleh tenaga edukatif FMIPA UT di
wilayah UPBJJ UT Serang. Untuk wilayah UPBJJ UT lainnya pembimbingan dilakukan oleh tutor
melalui tutorial tatap muka. Tutor tersebut diseleksi oleh UPBJJ UT sesuai kriteria yang tertera
dalam pedoman penyelenggaraan TAP yang terdapat dalam panduan belajar TAP (Universitas
Terbuka, 2005).
5. Evaluasi dan monitoring ke lokasi tutorial TAP. Penyelenggaraan TAP dilakukan sepenuhnya di
daerah di bawah koordinasi UPBJJ UT. Pihak fakultas melakukan evaluasi dan monitoring guna
memantau kelancaran penyelenggaraan tutorial TAP, mengidentifikasi dan mencari solusi
permasalahan, serta mengkaji proses penyelenggaraan tutorial TAP yang dapat dijadikan dasar
pertimbangan untuk perbaikan TAP yang akan datang.

6. Verifikasi karya ilmiah. Kegiatan ini merupakan tahapan yang dilakukan setelah karya ilmiah
diterima dari UPBJJ UT (dari mahasiswa). Karya ilmiah yang telah dinilai oleh pembimbing
tutorial TAP di UPBJJ UT, diverifikasi oleh pemeriksa karya ilmiah (staf akademik) di fakultas,
mengacu pada kriteria penilaian karya ilmiah yang ditetapkan dalam pedoman penyelenggaraan
TAP. Nilai total karya ilmiah adalah rata-rata nilai yang diperoleh dari pembimbing di UPBJJ UT
setempat dan pemeriksa di fakultas.
7. Pemeriksaan BJU TAP. BJU TAP diperiksa berdasarkan rambu penilaian yang dikembangkan
oleh tim pembuat soal TAP. Pada masa ujian 2005.2, BJU TAP diperiksa di fakultas. Pemeriksa
terdiri atas 12 orang untuk 6 butir soal TAP yang diujikan. Satu butir soal TAP diperiksa oleh 2
orang. Pelaksanaan pemeriksaan dilakukan secara konsinyasi selama 3 hari berturut-turut dalam
satu tempat. Cara pemeriksaan dilakukan seperti ‘ban berjalan’, untuk memungkinkan setiap
pemeriksa melakukan tugasnya pada saat yang bersamaan. Proses ‘ban berjalan’ tersebut dapat
mempersingkat waktu pemeriksaan dengan kualitas hasil pemeriksaan yang dapat diandalkan.
Hal ini dilakukan untuk mengurangi subjektivitas pemeriksa, sehingga validitas penilaian terjamin
dengan baik. Nilai total ujian TAP adalah penjumlahan dari rata-rata nilai per butir soal dengan
skala nilai total maksimal 100. Nilai ujian TAP berkontribusi sebanyak 50% apabila mahasiswa
mengikuti tutorial dan menyerahkan karya ilmiah TAP untuk melengkapi nilai akhir.
Alur pola penyelenggaraan TAP S1 PKP pada masa registrasi 2005.2 dapat dilihat pada
Gambar 2. Penyelenggaraan TAP yang dimulai dari registrasi sampai perolehan nilai akhir
merupakan alur yang terkontrol, artinya dalam setiap tahapan diupayakan perlakuan yang
mengutamakan penjaminan kualitas pengelolaan serta upaya penjaminan kualitas lulusan.
Penjaminan kualitas yang dilakukan antara lain saat penyelenggaraan monitoring dan evaluasi
(monev), yang salah satu tujuannya untuk melihat sejauh mana kesesuaian antara penyelenggaraan
pembimbingan dan evaluasi TAP dengan pedoman penyelenggaraan TAP yang telah ditetapkan.
Selain monev, upaya penjaminan kualitas lulusan dilakukan melalui penyusunan naskah
dan penilaian hasil belajar TAP dengan verifikasi nilai karya ilmiah serta penilaian hasil ujian TAP.
Naskah ujian disusun oleh tim khusus yang memiliki kompetensi di bidang ilmu penyuluhan pertanian
sehingga soal yang dihasilkan sesuai untuk mengukur penguasaan kompetensi yang diharapkan
oleh lulusan.
Verifikasi nilai karya ilmiah termasuk salah satu bentuk upaya penjaminan kualitas.
Pemeriksaan ulang karya ilmiah dilakukan oleh staf akademik yang memiliki kesesuaian ilmu dengan
topik yang ditulis oleh mahasiswa dan ditujukan untuk mengantisipasi kesenjangan nilai dengan yang
diberikan pihak pembimbing di UPBJJ UT. Adapun pemeriksaan BJU oleh 2 orang pemeriksa untuk
tiap butir soal adalah untuk menjaga objektivitas penilaian terhadap jawaban mahasiswa. Dengan
menerapkan teknik pemeriksaan BJU tersebut diharapkan dapat menghasilkan nilai yang lebih akurat
dibandingkan dengan pemeriksaan seluruh BJU oleh satu orang pemeriksa.
PRESTASI MAHASISWA DALAM UJI COBA PENYELENGGARAAN TAP MASA UJIAN 2005.2
Hasil ujian mahasiswa yang mengikuti ujian TAP S1 PKP FMIPA UT pada masa ujian 2005.2
memperlihatkan tingkat kelulusan yang berbeda antara mahasiswa yang mengikuti ujian TAP disertai
pembuatan karya ilmiah dengan mahasiswa yang hanya mengikuti UAS TAP (lihat pada Tabel 2).

Tabel 2. Sebaran Nilai Mahasiswa Peserta TAP Program Studi S1 PKP FMIPA UT pada Masa
Ujian 2005.2
Jumlah Peserta Jumlah Mahasiswa (%)
Ujian Nilai A Nilai B Nilai C Nilai D dan E
Ujian TAP + karya ilmiah 199 (50,6%) 5 (2,5%) 52 (26,1%) 134 (67,3%) 8 (4,1%)
Ujian TAP tanpa karya ilmiah 194 (49,4%) 1 (0,5%) 20 (10,3%) 117 (60,3%) 56 (28,9%)
Total 393 (100%) 6 (1,5%) 72 (18,3%) 251 (63,9%) 64 (16,3%)
Sumber: Pusat Komputer UT, 7 September 2006
Dari 393 peserta TAP, 199 orang mahasiswa mengikuti ujian TAP disertai pembuatan karya
ilmiah. Melalui pembuatan karya ilmiah tersebut, mahasiswa yang lulus TAP sebesar 95,9%. Adapun
bagi mahasiswa yang hanya mengikuti UAS TAP, yang lulus hanya sebesar 71,1%. Disamping itu
melalui karya ilmiah, nilai akhir mahasiswa yang memperoleh nilai A dan B sebanyak 72 orang
(28,6%). Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang hanya mengikuti
UAS, yaitu yang bernilai A dan B hanya 21 orang (10,8%).
Pembuatan karya ilmiah bukan saja dapat meningkatkan kelulusan TAP bagi mahasiswa
tetapi juga dapat menunjukkan kompetensi mahasiswa dalam menuangkan kemampuan analisis
yang komprehensif terhadap permasalahan yang diangkat dalam karya tulisnya.
PENUTUP
Penjaminan kualitas lulusan pada Program Studi S1 PKP UT dilakukan dengan jalan
memodifikasi mekanisme penyelenggaraan TAP dengan mengkombinasikan tutorial tatap muka
pembimbingan dan pembuatan karya ilmiah, serta ujian akhir TAP. Selama tutorial tatap muka
mahasiswa memperoleh pembimbingan penulisan karya ilmiah serta pembimbingan dan latihan
pengerjaan soal ujian akhir TAP.
Kontrol terhadap penjaminan kualitas antara lain dilakukan dengan cara: melakukan monev
penyelenggaraan TAP di beberapa UPBJJ UT, verifikasi nilai karya ilmiah TAP yang berasal dari
pembimbing TAP di UPBJJ UT serta pemeriksaan dan penilaian hasil ujian TAP secara sistem ’ban
berjalan’. Mekanisme penyelenggaraan TAP S1 PKP ini merupakan uji coba untuk pola penjaminan
kualitas lulusannya. Mekanisme ini diharapkan dapat diterapkan untuk memperbaiki mekanisme
penyelenggaraan TAP program studi lain di UT.
Hasil uji coba pelaksanaan TAP menunjukkan dampak positif terhadap kelulusan mahasiswa
peserta TAP. Pelaksanaan uji coba ini diharapkan menjadi salah satu terobosan untuk melihat
dampak positif dan negatifnya. Kendala yang dihadapi dalam menerapkan mekanisme TAP ini
secara nasional diantaranya adalah belum lengkapnya ketersediaan sarana dan prasarana, serta
kurang memadainya sumber daya manusia dan sumber dana. Hasil uji coba ini diharapkan menjadi
salah satu masukan bagi para penentu kebijakan akademik dalam rangka penjaminan kualitas
lulusan UT dan perguruan tinggi yang menerapkan sistem PJJ.
REFERENSI
Daryanto. (1999). Evaluasi pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Dikti. (2000). Penyelenggaraan kelas jauh. http://www.dikti.org/ diakses pada 12 April 2006
Feigenbaum, A. V. (1992). Kendali mutu terpadu, Ed.3 Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Kurniawan, O. (2003). Membenahi pengelolaan pendidikan nasional. Dalam D. Andriani, dkk (Eds),
Cakrawala Pendidikan, hal, 3-29. Jakarta: Universitas Terbuka.

Purnama, N. (2006). Penjaminan kualitas perguruan tinggi (swasta). http://www.kedaulatanrakyat.
com/ diakses pada 12 April 2006.
Purwanto,N. (1988). Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran. Bandung: Remadja Rosdakarya.
Soehendro, B. (1996). Pengelolaan perguruan tinggi dalam menuju peningkatan kualitas yang
berkelanjutan. http://si.dikti.go.id/ diakses pada 10 Maret 2006
Universitas Terbuka. (2004a). Studi kelayakan pembukaan Program Sarjana (S1) Penyuluhan dan
Komunikasi Pertanian Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Terbuka. Jakarta: Universitas Terbuka.
Universitas Terbuka. (2004b). Pedoman pengelolaan penilaian evaluasi hasil belajar mahasiswa.
Jakarta: Universitas Terbuka.
Universitas Terbuka. (2005). Panduan belajar TAP Program Studi S1-Penyuluhan dan Komunikasi
Pertanian. Jakarta: Universitas Terbuka.
Wahab, A.A. (2003). Globalisasi pendidikan: Analisis multi dimensi. Dalam D. Andriani, dkk (Eds),
Cakrawala Pendidikan, hal. 174-189. Jakarta: Universitas Terbuka.

dari : JURNAL PENDIDIKAN TERBUKA DAN JARAK JAUH
VOLUME 8, NOMOR
1
MARET
2007

 
< Prev   Next >
© 2014 S1negeri 3tahun tanpa skripsi - murah-berkualitas
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
banner-spbm-2012.jpg